Geologi Cekungan Bandung

A. Gunung Selacau dan Lagadar
picture1
Terletak di selatan Nanjung, Leuwigajah, Cimahi selatan, yang merupakan bagian dari geomorfologi pegunungan dan perbukitan gunungapi di cekungan Bandung yaitu berupa kubah dan kerucut sisa-sisa gunungapi. Pada umumnya morfologinya berupa gunungapi paling tua yang sudah mati dan telah tererosi dengan relief dan tekstur permukaan yang kasar (Gambar.1). Satuan morfologi ini merupakan sisa-sisa gunungapi sangat tua yang berumur Pliosen. Bentuk-bentuk kubah tererosi teridentifikasi tersebar di bagian baratdaya cekungan Bandung dari daerah Cililin hingga Gununghalu. Jenis batuan pada G.Selacau dan Lagadar yaitu berupa intrusi andesit.
Bukit-bukit yang terutama terbentuk dari proses endogen intrusi dan umumnya terdiri dari batuan beku seperti leher-leher gunungapi dari andesit, dasit dan basltis serta batuan terbreksikan (Gambar 2). Satuan ini membentuk bagian tengah dari kerucut-kerucut gunungapi, leher-leher gunungapi dan korok-korok dengan relief yang terjal dan ciribumi (landmark) yang jelas. Perbukitan sisa gunungapi inilah yang secara fisik memisahkan danau Bandung Purba menjadi bagian timur dan barat yang keduanya dihubungkan oleh celah sempit di daerah Nanjung, Leuwigajah. Karena banyak mengandung unsur-unsur volaknik yang keras dan kuat, G.Selacau dan Lagadar ini dijadikan sebagai Quarry/penambangan oleh masyarakat sekitar daerah itu. Penambangan ini bias berupa pasir maupun batu-batu untuk bahan bangunan dan hiasan rumah.
picture2
B. Gua Pawon
picture3
Gua Pawon sebenarnya merupakan gua yang tidak mempunyai lorong-lorong yang panjang dan gelap, tapi hanya terdiri dari banyak ruang (10 ruang besar) yang merupakan ceruk di dinding bukit. Litologi pasir Pawon ini berupa batugamping dengan kemiringan ke arah utara (gambar 3). Proses pengguaan berawal dari terbentuknya mataair yang kemudian diikuti proses pelarutan yang membentuk lubang pada gua yang semakin besar dan akhirnya membuat langit-langit gua runtuh. Setelah atap gua runtuh dan sebagian gua kopi terbuka, peristiwa hujan abu gunungapi dari letusan dahsyat G.Tanguban parahu kemungkinan mengisi lantai guanya.
Di puncak Pr.Pawon terdapat gejala mikro-karst yang membentuk bongkah-bongkah menonjol dari permukaan tanah yang menjadikan puncak bukit ini sebagai taman batu (Stone Garden) pada gambar 4. Proses pelarutan yang berjalan pada retakan-retakan batugamping menyembulkan sisa-sisa pelarutannya berupa bongkah batugamping yang tersusun dengan tidak teratur dan tinggi yang berbeda-beda dan berelief kasar.
picture4
picture5
Pada gua pawon ini ditemukan alat batu dari batugamping yang menunjukan adanya kehidupan purbakala pada daerah ini. Hasil analisis mengarah pada ruang utama sebagai tempat yang potensial untuk ditemukannya artefak. Dari ruang-ruang yang ada, ruang anak-anak dinilai memenuhi syarat tempat perlindungan dengan ukuran 3.5x7m, berpermukaan datar, kering dan bebas kelelawar. Lalu setelah diadakan penggalian, ternyata ditemukan tulang hewan vertebrata secara melimpah, kuku dan cakar binatang, rahang monyet, gerabah dan batu-batu eksotik dan ditemukan pula arang, tulang belulang dan cangkang moluska yang terbakar. Umur artefak ini diperkirakan pada zaman Paleolitikum-Neolitkum. Kemudian pada penggalian selanjutnya ditemukan rangka manusia serta tiga tengkorak lainnya yang biasa disebut dengan “Ki Sunda” (gambar 5). Jadi dapat disimpulkan bahwa Gua Pawon adalah tempat pertama yang ditemukan menyimpan banyak artefak prasejarah dan peninggalan arkeologis lainnya juga mengungkap perkembangan manusia prasejarah di sekitar Jawa Barat.

C. Gua Sangiangtikoro
Gua yang terletak di dekat instalasi rumah pembangkit (Power House) PLTA Saguling ini (gambar 6) pada awalnya diperkirakan merupakan tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Menurut kaltili dan Marks (1963) dalam Brahmantyo (2005) mengatakan bahwa penyodetan Citarum pada batugamping di sebelah barat Padalarang sebagai penyebab keringnya danau Bandung Purba. Tetapi berdasarkan analisis geomorfologi sekitar perbukitan Saguling-Sangiangtikoro menunjukan bahwa air danau tidak pernah kontak langsung dengan bukit Sangiangtikoro yang batuannya berupa batugamping berlapis dari formasi Rajamandala. Baik secara geologis maupun geomorfologis antara bukit Sangiangtikoro dan danau Bandung Purba terhalang oleh perbukitan Pr.Kiara-Pr Larang dengan formasi batuannya yaitu breksi gunungapi tersier yang sangat kompak dan keras (gambar 7).
Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro berada pada jajaran perbukitan Rajamandala yang mempunyai pola berarah barat daya-timur laut. Perbukitan ini dikontrol oleh sesar Cimandiri yang berarah sama dan secara geomorfologis diekspresikan dalam bentuk muka bumi sebagai perbukitan perlipatan dan punggungan homoklin. Sehingga perbukitan ini bersifat terlipat kuat, lapisan tegak dan terpatah-patah.
Geologi perbukitan Saguling-Sangiangtikoro terutama dikontrol oleh 2 jalur sesar naik berarah ENE dan tiga jalur sesar geser mendatar berarah timurlaut-baratdaya yang memotong seluruh formasi batuan serta sumbu antiklin yang berarah sama dengan sesar naik tepat memanjang searah punggungan Pr.Guha dan Pr.Sangangtikoro (Suroso, 1987 dalam Brahmantyo, 2005). Sesar-sesar mendatar ini selain menghasilkan zona-zona sesar di sekitar Cisambeng juga menghasilkan sesar naik minor dan 2 sesar mendatar . Sesar-sesar ini yang menyebabkan jalan keluarnya air panas di Cipanas, Cianjur (gambar 8).
Dengan latar belakang genangan maksimum danau purba yang kemungkinan tidak melebihi ketinggian 700-712.5m, serta kondisi geologi dan geomorfologi yang ada maka terdapat bukti yang menunujukan bahwa Gua Sangiangtikoro bukan penyebab surutnya danau Bandung Purba yaitu:
– Kondisi morfologi Pr.Sangiangtikoro terpisah sejauh 3-4km dengan Pr.Kiara dan Perbukitan Saguling yang diduga sebagai pantai danau dengan beda tinggi 300-400m.
– Kondisi geologi berupa dinding foreslope Hogback Pr.Kiara yang terdiri dari breksi formasi Saguling yang menjadi lingkungan penghalau danau.
– Proses erosi dan karstifikasi di sekitar aliran Citarum di Pr.Sangiangtikoro diduga tidak secara langsung berhubungan dengan air danau.
Gua Sangiangtikoro yang berada di dasar Pr.Sangiangtikoro (ketinggian 394 mdpl) mempunyai bentuk setengah ellipsoid memanjang barat-timur kea rah samping dengan ukuran panjang 8 m dan tinggi 3m. Langit-langit gua merupakan dasar dari lapisan batugamping diatasnya yang miring 400 ke arah barat laut, sedangkan dasar gua merupakan batugamping bagian bawah formasi Rajamandala yang bertransisi dengan batulempung formasi Batuasih. Bentuk gua seperti ini sangat khas menunjukan pengaruh kondisi freatik air tanah. Air tanah mengisi retakan-retakan batugamping Pr.Sangiangtikoro yang dilalui oleh sesar mendatar baratdaya-tmurlaut dan terganggu oleh sesar-sesar naik.
Selain itu terdapat proses lain yang mempercepat pembocoran danau Bandung Purba yaitu pembajakan sungai oleh Citarum hilir Purba (gambar 9). Beberapa bukti adanya pembajakan ini yaitu kondisi pertemuan anak-anak Citarum ke sungai utama di selatan Pr.Kiara yang umumnya mengarah ke hulu dari aliran Citarum sekarang dan terbentuknya knick pont (gambar 10). Hal ini menunjukan adanya suatu profil longitudinal sungai yang menunjukan adanya perubahan alas dasar sungai (base level) diakibatkan oleh perubahan kondisi ekstrim lairan sungai. Letak knick pont ini yaitu di Curug Halimun.
picture6
picture7
picture8

SUMBER: Brahmantyo, B. 2003. Geologi Cekungan Bandung. Bandung: Penerbit ITB

Iklan

~ oleh chezpiere53 pada Februari 9, 2009.

4 Tanggapan to “Geologi Cekungan Bandung”

  1. ni aminuddin ya?

  2. Terima kasih, informasi yang sangat bermanfaat! saya jadi semakin tertarik mencari informasi geologi Bandung purba. Jadi pingin melihat ke Sangiangtikoro, Pasir Larang & Pasir Kiara…

    Warga cekungan Bandung wajib mengetahui sejarah alam tempat yang mereka huni.

    • oh,,betul sekali. warga Bandung memang harus mengenal Bandung lebih dekat dan lebih dalam agar kita mengetahui potensi2 apa saja yang dimiliki oleh Bandung itu sendiri. Anda asli orang Bandung??tinggal dimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: