Geologi Cekungan Bandung

•Februari 9, 2009 • 4 Komentar

A. Gunung Selacau dan Lagadar
picture1
Terletak di selatan Nanjung, Leuwigajah, Cimahi selatan, yang merupakan bagian dari geomorfologi pegunungan dan perbukitan gunungapi di cekungan Bandung yaitu berupa kubah dan kerucut sisa-sisa gunungapi. Pada umumnya morfologinya berupa gunungapi paling tua yang sudah mati dan telah tererosi dengan relief dan tekstur permukaan yang kasar (Gambar.1). Satuan morfologi ini merupakan sisa-sisa gunungapi sangat tua yang berumur Pliosen. Bentuk-bentuk kubah tererosi teridentifikasi tersebar di bagian baratdaya cekungan Bandung dari daerah Cililin hingga Gununghalu. Jenis batuan pada G.Selacau dan Lagadar yaitu berupa intrusi andesit.
Bukit-bukit yang terutama terbentuk dari proses endogen intrusi dan umumnya terdiri dari batuan beku seperti leher-leher gunungapi dari andesit, dasit dan basltis serta batuan terbreksikan (Gambar 2). Satuan ini membentuk bagian tengah dari kerucut-kerucut gunungapi, leher-leher gunungapi dan korok-korok dengan relief yang terjal dan ciribumi (landmark) yang jelas. Perbukitan sisa gunungapi inilah yang secara fisik memisahkan danau Bandung Purba menjadi bagian timur dan barat yang keduanya dihubungkan oleh celah sempit di daerah Nanjung, Leuwigajah. Karena banyak mengandung unsur-unsur volaknik yang keras dan kuat, G.Selacau dan Lagadar ini dijadikan sebagai Quarry/penambangan oleh masyarakat sekitar daerah itu. Penambangan ini bias berupa pasir maupun batu-batu untuk bahan bangunan dan hiasan rumah.
picture2
B. Gua Pawon
picture3
Gua Pawon sebenarnya merupakan gua yang tidak mempunyai lorong-lorong yang panjang dan gelap, tapi hanya terdiri dari banyak ruang (10 ruang besar) yang merupakan ceruk di dinding bukit. Litologi pasir Pawon ini berupa batugamping dengan kemiringan ke arah utara (gambar 3). Proses pengguaan berawal dari terbentuknya mataair yang kemudian diikuti proses pelarutan yang membentuk lubang pada gua yang semakin besar dan akhirnya membuat langit-langit gua runtuh. Setelah atap gua runtuh dan sebagian gua kopi terbuka, peristiwa hujan abu gunungapi dari letusan dahsyat G.Tanguban parahu kemungkinan mengisi lantai guanya.
Di puncak Pr.Pawon terdapat gejala mikro-karst yang membentuk bongkah-bongkah menonjol dari permukaan tanah yang menjadikan puncak bukit ini sebagai taman batu (Stone Garden) pada gambar 4. Proses pelarutan yang berjalan pada retakan-retakan batugamping menyembulkan sisa-sisa pelarutannya berupa bongkah batugamping yang tersusun dengan tidak teratur dan tinggi yang berbeda-beda dan berelief kasar.
picture4
picture5
Pada gua pawon ini ditemukan alat batu dari batugamping yang menunjukan adanya kehidupan purbakala pada daerah ini. Hasil analisis mengarah pada ruang utama sebagai tempat yang potensial untuk ditemukannya artefak. Dari ruang-ruang yang ada, ruang anak-anak dinilai memenuhi syarat tempat perlindungan dengan ukuran 3.5x7m, berpermukaan datar, kering dan bebas kelelawar. Lalu setelah diadakan penggalian, ternyata ditemukan tulang hewan vertebrata secara melimpah, kuku dan cakar binatang, rahang monyet, gerabah dan batu-batu eksotik dan ditemukan pula arang, tulang belulang dan cangkang moluska yang terbakar. Umur artefak ini diperkirakan pada zaman Paleolitikum-Neolitkum. Kemudian pada penggalian selanjutnya ditemukan rangka manusia serta tiga tengkorak lainnya yang biasa disebut dengan “Ki Sunda” (gambar 5). Jadi dapat disimpulkan bahwa Gua Pawon adalah tempat pertama yang ditemukan menyimpan banyak artefak prasejarah dan peninggalan arkeologis lainnya juga mengungkap perkembangan manusia prasejarah di sekitar Jawa Barat.

C. Gua Sangiangtikoro
Gua yang terletak di dekat instalasi rumah pembangkit (Power House) PLTA Saguling ini (gambar 6) pada awalnya diperkirakan merupakan tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Menurut kaltili dan Marks (1963) dalam Brahmantyo (2005) mengatakan bahwa penyodetan Citarum pada batugamping di sebelah barat Padalarang sebagai penyebab keringnya danau Bandung Purba. Tetapi berdasarkan analisis geomorfologi sekitar perbukitan Saguling-Sangiangtikoro menunjukan bahwa air danau tidak pernah kontak langsung dengan bukit Sangiangtikoro yang batuannya berupa batugamping berlapis dari formasi Rajamandala. Baik secara geologis maupun geomorfologis antara bukit Sangiangtikoro dan danau Bandung Purba terhalang oleh perbukitan Pr.Kiara-Pr Larang dengan formasi batuannya yaitu breksi gunungapi tersier yang sangat kompak dan keras (gambar 7).
Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro berada pada jajaran perbukitan Rajamandala yang mempunyai pola berarah barat daya-timur laut. Perbukitan ini dikontrol oleh sesar Cimandiri yang berarah sama dan secara geomorfologis diekspresikan dalam bentuk muka bumi sebagai perbukitan perlipatan dan punggungan homoklin. Sehingga perbukitan ini bersifat terlipat kuat, lapisan tegak dan terpatah-patah.
Geologi perbukitan Saguling-Sangiangtikoro terutama dikontrol oleh 2 jalur sesar naik berarah ENE dan tiga jalur sesar geser mendatar berarah timurlaut-baratdaya yang memotong seluruh formasi batuan serta sumbu antiklin yang berarah sama dengan sesar naik tepat memanjang searah punggungan Pr.Guha dan Pr.Sangangtikoro (Suroso, 1987 dalam Brahmantyo, 2005). Sesar-sesar mendatar ini selain menghasilkan zona-zona sesar di sekitar Cisambeng juga menghasilkan sesar naik minor dan 2 sesar mendatar . Sesar-sesar ini yang menyebabkan jalan keluarnya air panas di Cipanas, Cianjur (gambar 8).
Dengan latar belakang genangan maksimum danau purba yang kemungkinan tidak melebihi ketinggian 700-712.5m, serta kondisi geologi dan geomorfologi yang ada maka terdapat bukti yang menunujukan bahwa Gua Sangiangtikoro bukan penyebab surutnya danau Bandung Purba yaitu:
– Kondisi morfologi Pr.Sangiangtikoro terpisah sejauh 3-4km dengan Pr.Kiara dan Perbukitan Saguling yang diduga sebagai pantai danau dengan beda tinggi 300-400m.
– Kondisi geologi berupa dinding foreslope Hogback Pr.Kiara yang terdiri dari breksi formasi Saguling yang menjadi lingkungan penghalau danau.
– Proses erosi dan karstifikasi di sekitar aliran Citarum di Pr.Sangiangtikoro diduga tidak secara langsung berhubungan dengan air danau.
Gua Sangiangtikoro yang berada di dasar Pr.Sangiangtikoro (ketinggian 394 mdpl) mempunyai bentuk setengah ellipsoid memanjang barat-timur kea rah samping dengan ukuran panjang 8 m dan tinggi 3m. Langit-langit gua merupakan dasar dari lapisan batugamping diatasnya yang miring 400 ke arah barat laut, sedangkan dasar gua merupakan batugamping bagian bawah formasi Rajamandala yang bertransisi dengan batulempung formasi Batuasih. Bentuk gua seperti ini sangat khas menunjukan pengaruh kondisi freatik air tanah. Air tanah mengisi retakan-retakan batugamping Pr.Sangiangtikoro yang dilalui oleh sesar mendatar baratdaya-tmurlaut dan terganggu oleh sesar-sesar naik.
Selain itu terdapat proses lain yang mempercepat pembocoran danau Bandung Purba yaitu pembajakan sungai oleh Citarum hilir Purba (gambar 9). Beberapa bukti adanya pembajakan ini yaitu kondisi pertemuan anak-anak Citarum ke sungai utama di selatan Pr.Kiara yang umumnya mengarah ke hulu dari aliran Citarum sekarang dan terbentuknya knick pont (gambar 10). Hal ini menunjukan adanya suatu profil longitudinal sungai yang menunjukan adanya perubahan alas dasar sungai (base level) diakibatkan oleh perubahan kondisi ekstrim lairan sungai. Letak knick pont ini yaitu di Curug Halimun.
picture6
picture7
picture8

SUMBER: Brahmantyo, B. 2003. Geologi Cekungan Bandung. Bandung: Penerbit ITB

TEORI PEMBENTUKAN BUMI

•Februari 9, 2009 • 2 Komentar

Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet yang mengitari matahari dalam Tata Surya yang jaraknya tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dengan matahari sehingga suhu udaranya memungkinkan adanya air yang melimpah. Akibatnya, planet ini merupakan satu-satunya yang sampai sekarang memiliki kehidupan di dalamnya. Planet Bumi terbentuk bersamaan dan sangat berhubungan dengan Pembentukan Tata Surya dan Galaksi.
Menurut para ahli astronomi, Galaksi terbentuk melalui sebuah ledakan yang besar. Teori ini berdasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa selain berputar pada porosnya, galaksi-galaksi juga bergerak saling menjauhi. Hal ini mengasumsikan bahwa dahulu galaksi tersebut saling berdekatan dan berawal dari suatu gumpalan yang kemudian diperkirakan meledak 15 milyar tahun yang lalu, menyebabkan energi tersebar dan kemudian galaksi-galaksi terbentuk dan bergerak tersebar seperti saat ini. Teori ini disebut Teori Big Bang.

Beberapa Teori Pembentukan Tata Surya, antara lain :
1. Teori Planetesimal,oleh Chamberlin dan Moulton.
Menurut teori ini, sekitar 4,6 miliyar tahun yang lalu di ruang angkasa terdapat awan gas dan debu yang mengapung mulai mengecil dan materi pada pusat awan itu mengumpul menjadi matahari. Sisanya memipih menjadi awan berbentuk cakram di sekitar matahari itu. Selama kira-kira 100 juta tahun, butir-butir debu dalam awan itu saling melekat membentuk planet yang sangat kecil dengan diameter hanya beberapa kilometer (planetesimal). Kemudian saling bertabrakan dan bergabung membentuk planet-planet.
2. Teori Komet Bufon
Tahun 1745, George comte de Buffon (1701-1788) dari Perancis mempostulatkan teori dualistik dan katastrofi yang menyatakan bahwa tabrakan komet dengan permukaan matahari menyebabkan materi matahari terlontar dan membentuk planet pada jarak yang berbeda.

3. Teori Nebula laplace, oleh Kant-Laplace.
Awan gas dan debu yang ada di alam semesta berkontraksi dibawah pengaruh gravitasi. Kemudian awan tesrebut berputar pelan dan mengalami keruntuhan akibat gravitasi. Pada saat keruntuhan, momentum sudut dipertahankan melalui putaran yang dipercepat sehingga terjadi pemipihan. Selama kontraksi ada materi yang tertinggal dalam bentuk piringan sementara pusat massa terus berkontraksi. Materi yang terlepas dalam piringan akan membentuk sejumlah cincin dan materi di dalam cincin akan mengelompok akibat adanya gravitasi. Kondensasi juga terjadi di setiap cincin yang menyebabkan terbentuknya sistem planet. Materi di dalam awan yang runtuh dan memiliki massa dominan akan membentuk matahari.
4. Teori Pasang Surut Jeans
Astronomi Inggris, James Jeans (1877-1946) mengemukakan Tata Surya merupakan hasil interaksi antara bintang lain dan matahari. Menurut Jeans dalam interaksi antara matahari dengan bintang lain yang melewatinya, pasang surut yang ditimbulkan pada matahari sangat besar sehingga ada materi yang terlepas dalam bentuk filamen. Filamen ini tidak stabil dan pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang kemudian membentuk proto planet. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang, proto planet memiliki momentum sudut yang cukup untuk masuk kedalam orbit disekitar matahari. Pada akhirnya efek pasang surut matahari pada proto planet saat pertama kali melewati perihelion memberikan kemungkinan bagi proses pembentukan planet untuk membentuk satelit. Ia menyatakan bahwa saat pertemuan kedua bintang terjadi, radius matahari sama dengan orbit Neptunus. Pengubahan ini memperlihatkan kemudahan untuk melontarkan materi pada jarak yang dikehendaki. Materinya juga cukup dingin, dengan temperatur 20 K dan massa sekitar ½ massa jupiter.
Dari beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli astronomi tersebut, teori nebula laplace dan teori planetesimal-lah yang dapat diterima sampai sekarang.

Pembentukan Bumi
Bumi diperkirakan mulai terbentuk ketika butir-butir debu dalam cakram atau cincin awan di sekitar matahari nulai saling melekat. Partikel-partikel ini menggumpal menjadi badan yang lebih besar yang kemudian bertabrakan dan membentuk benda-benda berukuran planet.
Sisa-sisa dari awan asli berjatuhan ke bumi yang masih muda itu. Energi dari bahan yang jatuh ini, bersama dengan pemanasan yang terjadi akibat pelapukan radioaktif, menyebabkan melelehnya bumi. Akibatnya bahan-bahan yang mampat seperti besi dan Nikel tenggelam ke pusat dan membentuk inti bumi. Seluruh permukaan bumi tertutup oleh lautan batuan yang meleleh. Bahan-bahan yang lebih ringan seperti uap air dan karbon dioksida beralih ke luar dan membentuk atmosfer purba.
Angin matahari menyapu bersih sisa-sisa awan asli dari Tata Surya sehingga benturannya ke bumi menjadi berkurang. Planet Bumi mendingin dan uap air membentuk awan tebal di atmosfer.
Kemudian awan pun mendingin, uap airnya mengembun, dan hujan deras membanjiri bumi dan mendinginkan batuan di permukaan bumi. Limpahan air tersebut mengumpul di tempat yang rendah sehingga terjadilah awal samudera di dunia. Karbon dioksida dari udara mulai larut dalam genangan luas ini sehingga planet ini makin dingin lagi. Kira-kira 2.5 miliar tahun yang lalu, sebuah bumi yang biru telah muncul. Awan menghilang dan matahari bersinar terang seperti adanya sekarang.

Sumber :
http://www.google/teori pembentukan tata surya setelah newton.hmtl
http://www.google/teori pembentukan tata surya awal abad ke-20.hmtl
Handout kuliah Pengantar Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral

Cost Benefit Analysis

•Februari 9, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Karakteristik dari Cost Benefit Analysis meliputi:
• Cost-benefit analysis didasari oleh filsafat “Utilitarianism”. Utilitarianism sebuah filsafat yang memandang bahwa benar tidaknya suatu tindakan/kebijakan ditentukan oleh besar kecilnya manfaat-bagi-semua pihak.
• Cost-benefit analysis biasanya digunakan oleh pemerintah untuk mengevaluasi adanya suatu intervensi pasar. Tujuannya adalah untuk mengukur efisiensi relatif dari intervensi pada status quo. Biaya dan manfaat dari dampak intervensi dievaluasi dalam hal keinginan masyarakat untuk mendapatkan keuntungan (benefit) atau keinginan mereka untuk menghindari biaya (cost)
• Cost-benefit analysis biasanya melibatkan perhitungan menggunakan Formula nilai uang berdasarkan waktu. Hal ini dilakukan dengan mengubah biaya dan manfaat suatu nilai uang pada masa depan yang diharapkan mengalir dari jumlah biaya dan manfaat pada nilai saat ini (pertumbuhan dari suatu inflasi dan sistem moneter).

• Karena yang dianalisis adalah intervensi pasar, maka Cost-benefit analysis sangat berkembang di Negara Kapitalis seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Inggris.
Apa yang disebut manfaat di sini masih diukur dengan ukuran-ukuran yang sifatnya sangat anthropocentric (Manfaat bagi suatu kelompok manusia tertentu).
Asumsi-asumsi dasar Utilitarianism (fondasi Cost Benefit Analysis):
• Manusia adalah konsumen yang paling tahu tentang kebutuhannya.
• Dalam posisi sebagai konsumen itulah dia menentukan kebutuhannya, mendefinisikan apa saja yang dianggap bermanfaat dan apa yang paling diperlukan.
• Contoh dalam kehidupan : Seorang manajer produk membandingkan pengeluaran berupa manufaktur dan kegiatan pemasaran untuk proyeksi penjualan pada pembelian produk yang diusulkan, dan memutuskan untuk memproduksi jika ia berharap mendapatkan penerimaan yang mengganti biaya ganti rugi (keuntungan). Jika nantinya justru lebih besar pengeluaran daripada penerimaan, dia akan tidak jadi membeli suatu produk atau membeli produk lain yang lebih murah.
• Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhanya, manusia didorong oleh motif-motif yang berorientasi pada dirinya sendiri.
Keterbatasan Cost Benefit Analysis
• Cost Benefit Analysis dilakukan untuk mengoptimalkan efektifitas dan efisiensi keputusan yang diambil sehingga ada pihak yang merasa tidak puas dengan keputusan yang diambil.
• Kalangan ecocentris memandang bahwa suatu keputusan tidak bisa serta merta dianggap benar hanya karena memenuhi kriteria efektifitas/efisiensi.
Ada dimensi-dimensi lain yang harus diperhatikan:
– Dampak keputusan tersebut terhadap kelangsungan alam
– Ethical standing yang mendasari keputusan.
• Cost Benefit analysis hanya dapat dilakukan pada suatu Negara yang menganut sistem Kapitalisme dimana hanya para pemilik modal yang berkuasa dan mereka adalah yang menguasai pasar dimana pemerintah tidak berfungsi sebagai pengatur (Regulator) tapi hanya sebagai pengamat ekonomi. Contohnya yaitu di Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris dan lain-lain.
• Metode-metode tersebut tidak merubah posisi etikal manusia terhadap alam. Segala sesuatunya masih diukur dengan ukuran yang menjadikan manusia sebagai homo mensura.
• Metode-metode di atas cenderung mereduksi makna lingkungan hidup dalam hitung-hitungan matematis, yang seringkali memunculkan kesalahan pengkategorian antara preferences dengan values/judgements.
• Ketidakakuratan argumen pada Cost benefit analysis dapat menjadi penyebab yang akan menjadi risiko dalam suatu perencanaan, karena ketidakakuratan penilaian Cost-benefit analysis yang didokumentasikan dapat menyebabkan keputusan yang tidak efisien dan efektif sehingga salah mengambil keputusan yang mengakibatkan kerugian.
• Selama Cost-benefit analysis, nilai moneter mungkin menjadi tugas dengan pengaruh kurang nyata seperti berbagai risiko yang dapat berkontribusi untuk kegagalan pada sebagian atau total proyek, hilangnya reputasi suatu perusahaan, penetrasi pasar, jangka panjang strategi perusahaan dan pensejajaran perusahaan.
Solusi untuk Cost-Benefit Analysis
Mengingat kelemahaan-kelemahan yang terkandung di dalamnya, ada upaya untuk mengeleminir kelemahan Cost-benefit analysis.
• Cara 1
– mengakomodir aspek lingkungan hidup dalam perhitungan-perhitungan ekonomi.
– Dampak suatu kebijakan pada lingkungan coba untuk dikonversi dalam hitungan matematis ekonomis dengan harapan dampak lingkungan dari aktifitas pasar bisa diredam melalui mekanisme harga di pasar.

• Cara 2
– memasukan perhitungan kuantitatif dari proyeksi dampak kebijakan yang diambil terhadap lingkungan.
– Efisiensi di sini tidak hanya diukur dari perhitungan cost-benefit yang hanya menghitung hasil kuantifikasi aspek politik, sosial, dan ekonomi tetapi juga kuantifikasi dari aspek-aspek lingkungan.
– Ini diharapkan akan memunculkan kebijakan yang tidak hanya lebih efisien tetapi juga lebih ramah lingkungan dalam satuan ukur efisiensi.
• Cara 3
– Dalam suatu kelompok, apabila mengambil keputusan sebaiknya dengan musyawarah dan tidak mementingkan diri sendiri karena pada dasarnya manusia ingin untung sendiri (egois) tapi lebih karena keuntungan bersama seperti keuntungan perusahaan. Jadi untuk menganalisis cost benefit dipilih orang yang benar-benar kompeten dan royal terhadap perusahaannya sehingga keputusan yang diambil lebih efektif dan efisien.
• Cara 4
– Karena pada cost benefit analysis umumnya dilakukan di Negara kapitalis, maka di Indonesia hal ini kurang cocok. Tapi karena saat ini perdagangan global sudah dimulai, maka Indonesia mau tidak mau harus ikut. Agar cost benefit analysis lebih cocok bagi Indonesia maka sebaiknya dalam perhitungannya memasukan hal-hal seperti keadaan masyarakat Indonesia saat ini baik dari segi ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan sebagainya. Disini juga harus dipikirkan kemampuan membeli masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih masyarakat miskin (±80%).
– Indonesia merupakan sebuah Negara berkembang, sehingga dalam system moneternya masih bergantung pada pihak luar. Hal ini juga yang harus dianalisis dalam perhitungan cost benefit analysis agar Indonesia tidak selalu terpengaruh oleh iming-iming pihak luar yang tidak menguntungkan masyarakatnya dalam jangka panjang tapi hanya menguntungkan pada jangka pendek.

Sumber:
http://www.wikipedia.org/wiki/cost-benefit analysis. senin, 9 November 2008
http://www.google.com/cost benefit analysis/. senin, 9 November 2008.